oleh : Ukma Elsa Dias
Ini tentang sahabatku. Kita sebut aja dia SJA.
Pertama kenal
aku lansung mengerti “SJA” ini baik budi dan tidak sombong, jagoan lagi
pula pintar. Sedikit pemalu terutama soal perempuan, selalo kagok
katanya. Pandangan – pandangannya tentang perempuan humanis sekali, dia
takut jika disalah artikan oleh perempuan. Karenanya dia cenderung jadi
pecinta rahasia dari perempuan – perempuan hebat yang dia ceritakan
padaku. Ketika dia sedikit berani mengutarakan isi hatinya pada salah
satu perempuan hebat itu, dia lansung kena batunya. Perempuan itu
ternyata sudah punya AA’. Dia bukan main merananya. Aku merelakan diri
jadi curhatnya, sampai semalaman. Untungnya curhat sambil nonton DVD
bajakan yang sebelumnya dia beli 7 buah. Jadi sambil ngomentari dikit –
dikit aku lumayan terhibur dengan desahan Monica Belluci. Untuk desahan
emang dibanding SJA, desahan monica lebih enak di telinga. Begitulah
SJA, sang pecinta kegelapan. Dia bersedia menunggu di bawah jendela,
memandang bintang dan bulan sembari berharap si perempuan hebat ini
menyapa dan menyambut cintanya. Tapi buat ku sifat SJA ini menunjukkan
sisi kemanusiaannya yang hebat. Dia pecinta sejati dengan keterbatasan
pengungkapan. Dia sederhana mencintai seperti cinta abu kepada angin
yang menerbangkannya, seperti kayu kepada api yang membakarnya.
Mengenai
kecerdasan, SJA tiada duanya. Dia menulis berbagai tema artikel dengan
nama orang lain. Beberapa buku dengan ratusan halaman di selesaikan
dalam hitungan minggu. Energinya luar biasa untuk memburu ilmu di
internet, buku, Koran hingga majalah. Demi pengetahuan semua situs sudah
dia jelajahi, mulai dari jurnal ilmiah hingga situs XXX. Gaya bicaranya
datar namun tidak menghilangkan bobotnya. Dia bukan tipe “beo” yang
mengulang –ulang isi buku seperti salah satu politisi muda hebat yang
lagi naik daun. Semua informasi masuk dalam pengetauan sejatinya,
melalui mulutnya semua teori, konsep dan analisa menjadi khas SJA.
Ada
yang aku tunggu dari SJA disamping transferannya. SJA adalah sosok di
kegelapan, maksudnya bukan karena kulitnya sedikit gelap namun karena
dia selalu menjadi manusia hebat di belakang layar. Dia betul – betul
intelektual tukang yang baik budi dan tidak sombong di belakang tokoh –
tokoh yang terkadang baik budi juga namun sombong. Aku menunggu dia
muncul sebagai tokoh hebat. Sudah saatnya SJA harus membuka layar dan
menyapa manis dunia dengan wajah close up. Kalau dia sudah memutuskan
muncul, maka SJA tidak perlu lagi terkagum – kagum lagi dengan acting
Jean Reno, karena di alam politik dia adalah Jean Reno itu sendiri.
wah-wah....
BalasHapusjadi penasaran dengan SJA si sosok kegelapan ini kanda..... la berharap cerita tentang sosok kegelapan ini kanda lanjutkan, karena sepertinya menarik!!! :)