Kamis, 13 Juni 2013

Filosofi Kepemimpinan

Oleh : Ukma Elsa Dias 

Pada awalnya manusia menyatu dengan alam. Penyatuan itu secara simbolik di gambarkan dalam bentuk hubungan plasenta yang menempel di pusar bayi. Alam yang dimaksud adalah rahim sang ibu. Ketika bayi lahir maka pemotongan tali pusar dianggap sebagai sebuah peristiwa simbolik pemisahan eksistensial sang bayi dengan alam, bahwa bayi sudah menjadi individu baru dan secara hakiki membawa kebebasan sejati dalam keberadaannya.
ERICH FROMM (Tokoh Psycho Analisa)

Yang menarik dari pernyataan fromm adalah bahwa untuk “menjadi” (becoming), manusia harus dipahami sebagai makhluk yang secara hakiki terlahir dalam kebebasan yang sempurna. Kebebasan itu menjadi ciri kemanusiaan kita dan akan menyebabkan alienasi (keterasingan dari pengalaman kemanusiaan) apabila manusia tidak menjalani hidupnya dengan ekspresi kebebasan tersebut. Hal ini mengandaikan bahwa hidup sebebas bebasnya pada dasarnya sama dengan menggunakan hak kesejatiannya sebagai manusia. Dengan kebebasan sejati yang dimiliki manusia lahirlah tanggung jawab dalam dirinya. Semua kebebasan harus dipertanggungjawabkan sepenuhnnya. Faktor tanggungjawab ini kemudian menjadi dasar bahwa semua manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Manusia memiliki otak untuk berfikir dan hati untuk merasakan. Dua hal yang menjadi energi tindakan manusia tersebut akan menentukan bagaimana manusia meminpin dirinya dalam kehidupan untuk kemudian mempertanggungjawabkan tindakannya tersebut.
Namun sungguhpun memiliki kebebasan sejati, kebebasan manusia juga dibatasi oleh kebebasan manusia lainnya. Jika setiap orang kemudian mendasari tindakannya dengan kebebasan yang sempurna, akan terjadi kekacauan besar di karenakan setiap orang memiliki keinginan dan kebutuhan yang berbeda satu sama lain. Untuk bertahan hidup ternyata manusia harus mengurangi kebebasan sempurnanya karena hanya dengan cara begitu harmoni sosial bisa diciptakan. Mengurangi kebebasan sempurna bukanlah kelemahan karena ada aspek kepentingan bersama yang menjadi gantinya. Dalam konteks ini kemudian dibutuhkan sebuah kesepakatan-kesepakatan atau konsensus yang dasar utamanya adalah mengurangi sedemikian rupa kebebasan sejatinya dan menggantikannya dengan situasi untuk “kepentingan umum”.
Munculnya konsensus atau kesepakatan-kesepakatan mengandaikan secara jelas kepada kita bahwa sebuah “kepemimpinan” sudah bekerja dengan baik. Kepemimpinan memang menjadi poin penting dalam hukum kausalitas munculnya konsensus. Kalau tidak ada kepemimpinan maka individu-individu yang merumuskan konsensus hanya sebuah kerumunan manusia yang memiliki beragam kepentingan. Disini fenomena kepemimpinan menjadi bermakna filosofis. Kepemimpinan adalah sebuah keharusan sejarah yang timbul sebagai akibat dari munculnya masyarakat manusia. Di zaman purba ketika semua orang masih menggunakan bahasa isyarat dan hidup berpindah-pindah, organisasi masyarakat dalam bentuk yang paling primitif sudah terbentuk secara alamiah. Siapa yang memiliki hak untuk mendapatkan makanan lebih, siapa yang bertugas mengatur penyelesaian sengketa, siapa yang berburu, siapa yang memasak, siapa yang mengobati kalau ada anggota suku yang sakit dan seterusnya adalah dasar dari terbentuknya secara alamiah sebuah organisasi masyarakat. Dengan sendirinya kebutuhan akan adanya kepemimpinan juga tercipta secara almiah. Seperti ilustrasi diatas kepemimpinan menjadi penting untuk menata kepentingan umum dari sebuah masyarakat primitif. Dengan demikian sesungguhnya sampai kapanpun kepemimpinan tetap dibutuhkan sebagai bagian paling penting bagi manusia untuk bertahan hidup (Survival).
Lebih jauh, pemimpin yang muncul sebagai sebuah gejala alamiah untuk bertahan hidup pada awalnya terseleksi secara alamiah juga. Di zaman primitif, semua hal belum di strukturkan secara fungsional. Orang yang paling sakti, bisa mengobati, mengatur strategi perang, mengatur strategi berburu, memimpin ritual, menyelesaikan sengketa bisa saja ada ditangan satu orang yaitu kepala suku. Kepala suku menjadi simbol segalanya bagi masyarakatnya. Dengan demikian pergantian kepemimpinan didasarkan pada keunggulan anggota masyarakat tersebut. Tidak ada yang lemah, sakit-sakitan atau bodoh terpilih sebagai kepala suku. Kepala suku adalah orang yang tangguh dan memiliki keunggulan. Hal ini yang menjadi dasar bahwa pemimpin adalah excellent perconal.
Disinilah kemudian asumsi bahwa semua orang adalah pemimpin menjadi benar dengan sendirinya. Bahwa secara bawaan manusia pada dasarnya adalah individu pemimpin. Dengan menjadi manusia saja pada dasarnya dia sudah lansung menjadi pemimpin. Hakekat penciptaan manusia dimulai dari ketidak mampuan makhluk selain manusia untuk menjadi pengemban amanah dari sang pencipta. Bawaan ini pada dasarnya muncul karena makhluk selain manusia diciptakan untuk kepentingan manusia. Interaksi manusia dengan makhluk lain ini menciptakan ruang kebebasan kepada individu apakah dia akan mengeksploitasi secara berlebihan atau akan memelihara sebaik mungkin demi harmoni di alam ini. Pilihan akan kebebasan itu menunjukkan ruang dimana kepepmimpinan setiap manusia bekerja. Jika manusia menggunakan potensi fikirannya dan hati untuk menimbang baik buruk sikapnya terhadap alam maka perilakunya akan menjadi jauh lebih bersahabat dengan alam. Bila nafsu lebih mengendalikan fikiran manusia dan dengan sendirinya potensi fikiran dan hati tidak dijadikan sebagai pemimpin maka kerusakan alam hanya akibat yang akan diterima manusia. Kualitas kepemimpinan bawaan individual tersebut menjadi ukuran kualitas seseorang. Kekhalifahan manusia di ukur dari bagaimana manusia mengembangkan diri dalam beriteraksi dengan selain dirinya.
Perkembangan manusia di bumi menyebabkan manusia kemudian menemukan tekhnik-tekhnik pengembangan diri. Pemimpin dan kepemimpianan yang awalnya adalah fenomena bawaan kemudian dikelola menjadi sesuatu yang bisa di reproduksi. Lembaga-lembaga pelatihan banyak menyediakan perangkat untuk mencapai keunggulan tersebut. Maka dengan tidak mengabaikan aspek “bakat”, kepemimpinan bisa diciptakan dengan pelatihan-pelatihan tertentu.
Disamping kepemimpinan bisa diciptakan dan di reproduksi, kearifan menagajarkan kita supaya belajar ke alam. Alam takambang jadi guru adalah ungkapan budaya yang maknanya dalam sekali. Hampir relevan dengan apa yang dikatakan Paulo Freire bahwa semua tempat adalah sekolah semua orang adalah guru. Alam menyediakan dirinya untuk di elaborasi menjadi pengetahuan. Mari sejenak kita segarkan ingatan pada kearifan nenek moyang kita dalam mengambil pelajaran dari alam. Coba kita tafsirkan beberapa petatah petitih tentang pemimpin dan kepemimpanan di bawah ini.
Pemimpin di minang diduluan salangkah di tinggian sarantiang.
Pemimpin sesungguhnya dibatasi otoritasnya oleh etika dan kepatutan moral yang memberinya mandat kekuasaan. Pemimpin hanya dianggap memiliki kekuasaan sedikit diatas yang di pimpinnya sehingga tidak perlu menimbulkan kesombongan dan besar kepala. Pembatasan ini akan menjadi faktor utama untuk menghalangi timbulnya kekuasaan tak terbatas sang pemimpin sehingga cenderung menjadi tirani dan otoriter.
Pemimpin di minang ka pai tampek batanyo, ka pulang tampek babarito.
Pemimpin itu luas wawasannya, arif bijaksana dan pertimbangan-pertimbangannya menjadi masukan yang sangat berguna bagi orang yang dipimpinnya. Bila seseorang ingin melakukan sesuatu maka pemimpin memiliki kemampuan untuk memberikan nasehat dan pertimbangan baik buruknya kepada orang tersebut. Kemudian secara psikologis pemimpin memiliki kemampuan berkomunikasi yang hangat dan apresiate kepada lawan bicaranya. Sehingga pemimpin bisa menjadi tempat curhat bagi orang yang dipimpinnya. Orang juga percaya bahwa pemimpin memiliki kemampuan merumuskan informasi yang diberikan kepadanya menjadi data yang bisa berguna bagi masyarakatnya secara luas.
Pemimpin di minang baringin gadang dalam kampuang, ureknyo tampek baselo, akanyo tampek bajuntai, batangnyo tampek basanda, daunnyo tampek balinduang.
Kekuasaan atau otoritas pemimpin digunakan bukan untuk tujuan pribadi namun betul betul untuk melindungi masyarakat yang dipimpinnya. Kalau pemimpin tersebut kuat maka dia dijadikan sebagai tameng untuk melindungi masyarakatnya dari rasa tidak aman. Pemimpin memiliki kemampuan untuk membangun konsensus di tengah masyarakatnya sehingga tidak ada sengketa yang tidak bisa diselesaikan dengan cara win-win solution. Pemimpin juga bisa menenangkan hati masyarakatnya, menghibur masyarakatnya bila dalam keadaan galau, membangkitkan motovasi masyarakatnya dan aspek spikologis lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka panghulu, panghulu barajo ka urang banyak.
Kepemimpinan merupakan sebuah sistem dimana loyalitas dan kepatuhan rasional masyarakat menjadi dasar dari mandat yang diberikan kepada pemimpin. Relasi antara pemimpin dengan yang dipimpin tetap saja harus rasional dan masyarakat adalah pemegang kedaulatan yang paling tinggi. Dengan demikian pemimpin tidak bisa seenaknya membuat keputusan yang merugikan orang banyak. Bahkan lebih jauh keputusan dan kebijakan pemimpian harus didasarkan pada kepentingan orang banyak tersebut.
Rajo alim rajo di sambah, rajo lalim rajo di bantah.
Pemimpin yang baik, peduli pada kepentingan masyarakatnya, menyediakan diri sebagai problem solver dan sikap positif lainnya wajib hukumnya untuk di patuhi. Loyalitas pada pemimpian seperti itu justru akan melahirkan masyarakat yang kuat dan sejahtera. Namun apabila pemimpin kemudian berlaku sewenang-wenang dan meminpin dengan tangan besi maka wajib juga hukumnya untuk melakukan perlawanan. Pemimpin model kedua ini justru akan menyengsarakan masyarakat dalam situasi penindasan, kebodohan dan kemiskinan.
27 Februari 2008 dulu di terbitkan pertama kali di micheleadershipcenter

S J A

oleh : Ukma Elsa Dias
Ini tentang sahabatku. Kita sebut aja dia SJA.
Pertama kenal aku lansung mengerti “SJA” ini baik budi dan tidak sombong, jagoan lagi pula pintar. Sedikit pemalu terutama soal perempuan, selalo kagok katanya. Pandangan – pandangannya tentang perempuan humanis sekali, dia takut jika disalah artikan oleh perempuan. Karenanya dia cenderung jadi pecinta rahasia dari perempuan – perempuan hebat yang dia ceritakan padaku. Ketika dia sedikit berani mengutarakan isi hatinya pada salah satu perempuan hebat itu, dia lansung kena batunya. Perempuan itu ternyata sudah punya AA’. Dia bukan main merananya. Aku merelakan diri jadi curhatnya, sampai semalaman. Untungnya curhat sambil nonton DVD bajakan yang sebelumnya dia beli 7 buah. Jadi sambil ngomentari dikit – dikit aku lumayan terhibur dengan desahan Monica Belluci. Untuk desahan emang dibanding SJA, desahan monica lebih enak di telinga. Begitulah SJA, sang pecinta kegelapan. Dia bersedia menunggu di bawah jendela, memandang bintang dan bulan sembari berharap si perempuan hebat ini menyapa dan menyambut cintanya. Tapi buat ku sifat SJA ini menunjukkan sisi kemanusiaannya yang hebat. Dia pecinta sejati dengan keterbatasan pengungkapan. Dia sederhana mencintai seperti cinta abu kepada angin yang menerbangkannya, seperti kayu kepada api yang membakarnya.
Mengenai kecerdasan, SJA tiada duanya. Dia menulis berbagai tema artikel dengan nama orang lain. Beberapa buku dengan ratusan halaman di selesaikan dalam hitungan minggu. Energinya luar biasa untuk memburu ilmu di internet, buku, Koran hingga majalah. Demi pengetahuan semua situs sudah dia jelajahi, mulai dari jurnal ilmiah hingga situs XXX. Gaya bicaranya datar namun tidak menghilangkan bobotnya. Dia bukan tipe “beo” yang mengulang –ulang isi buku seperti salah satu politisi muda hebat yang lagi naik daun. Semua informasi masuk dalam pengetauan sejatinya, melalui mulutnya semua teori, konsep dan analisa menjadi khas SJA.
Ada yang aku tunggu dari SJA disamping transferannya. SJA adalah sosok di kegelapan, maksudnya bukan karena kulitnya sedikit gelap namun karena dia selalu menjadi manusia hebat di belakang layar. Dia betul – betul intelektual tukang yang baik budi dan tidak sombong di belakang tokoh – tokoh yang terkadang baik budi juga namun sombong. Aku menunggu dia muncul sebagai tokoh hebat. Sudah saatnya SJA harus membuka layar dan menyapa manis dunia dengan wajah close up. Kalau dia sudah memutuskan muncul, maka SJA tidak perlu lagi terkagum – kagum lagi dengan acting Jean Reno, karena di alam politik dia adalah Jean Reno itu sendiri.

GADIS BERBAJU BIRU SANGAT TUA



Gadis itu saya tebak berusia 16 tahun. Motornya berhenti persis di depan saya dan tanpa turun dari kendaraan dia meneriakkan pelan pesanannya, Jagung bakar serut. Saya yang memang bengong dari tadi menunggu pesanan yang sama otomatis tidak bias menolak menikmati kecantikan itu. Kehadirannya sesaat memang seperti menyembul dari kebisingan dan deru debunya jalan raya. Dia muncul dengan indahnya membuat dunia sekitar menjadi musim semi tiba – tiba. Sore melambat, entah dari mana mengalun denting piano dan gesekan biola begitu merdu. Namun di mata saya justru semuanya berjalan begitu cepat. Tidak ingin kehilangan kesempatan, mata saya segera menjelajahi keindahan tersebut.
Gadis 16 tahun itu berjilbab biru sangat muda membalut lembut kulit wajahnya yang kuning pualam. Matanya bulat dan bersinar sangat terang. Beberapa kali kami beradu pandang dan tidak seperti behadapan dengan perempuan lain, kali ini saya biarkan dia tahu bahwa saya mengagumi dirinya sepenuh hati. Hidungnya mancung, bibirnya merah tipis menyembunyikan barisan gigi yang tersusun sangat rapi. Ada yang unik di wajahnya.Setiap dia bicara menyebabkan tarikan halus di bawah tulang pipinya. Tarikan ini membentuk garis abstrak dari tulang pipi memanjang kearah mata. Namun bila dia diam, garis tersebut tidak membekas sama sekali. Teman di boncengannya asyik menemaninya ngobrol sambal sesekali merapikan headphone yang terpasang di kedua telinganya. Tapi saya hanya selintas memperhatikan temannya itu, keindahan  terlalu terpusat pada gadis berjilbab biru sangat muda ini maka temannya seperti segala sesuatu yang ada di sekitar lokasi itu hanya menjadi latar belakang tak penting dari pesonanya yang agung.
Dia berbaju biru sangat tua, membalut tubuh nya tanpa ampun. Tidak terlalu ketat namun juga tidak berusaha menyembunyikan keindahan tubuhnya. Baju itu saya yakin menjadi makhluk paling beruntung dari semua benda di sore itu. Di temani celana jeans hitam dan sandal coklat bertali memberi kesan simple pada keseluruhan penampilannya.
Gadis itu dan saya menunggu pesanan yang sama, Jagung bakar serut. Menelusup kebanggaan saya menyadari bahwa selera saya tidak malu – maluin, toh ada juga yang sama dari kami berdua. Siapa tahu diluar jagung bakar serut, mungkin kami sama – sama menyukai warna biru, sama – sama suka gambar pemandangan, suka pada lilin atau apalah. Jadi ada optimisme bahwa ini mungkin titik awal dimana banyak hal dari kami yang bisa di satukan. Dalam hati saya berdo’a sekhusuknya agar pemilik warung lupa pesanan saya. Dengan demikian saya punya alasan untuk tetap berada di jalan itu dan memandangi gadis tersebut berlama – lama. Namun gadis itu tidak memberi perhatian lebih pada pandangan saya yang mengaguminya. Harapan saya, kami bias di satukan oleh Jagung bakar serut tanpak nya sia – sia. Pandangannya yang sangat biasa itu segera menyadarkan saya bahwa saya tidak memiliki syarat untuk di pandang berungkali oleh perempuan. Apalagi oleh gadis yang saya duga jika hidup di zaman para dewa, maka dia pasti menjadi satu – satunya alasan rasional atas perang bharatayudha.
Saya tersentak lalu ingat Aci Candra. Gadis idealnya adalah berusia belasan tahun, cantik menarik hati, baik budi dan tidak sombong. Sepintas gadis ini memenuhi syarat. Saya menjadi iri tiba – tiba kalau Aci bertemu gadis ini. Saya pasti tidak tahan melihat Aci membagi senyum setiap saat kepada penghuni Selayo 11, membanggakan gadis berbaju biru sangat tua itu sebagai pilihan hatinya. Dia akan bercerita membabi buta bahwa inilah satu –satunya gadis yang pantas untuk di jatuh cintai. Persoalan gadis itu juga jatuh cinta atau tidak pada Aci, bukanlah hal penting. Aci adalah laki – laki universal yang bersedia mencintai tanpa pamrih. Menyadari ini saya tersenyum arif sembari berdo’a semoga Aci menemukan gadis itu. Bahaya kalau justru Fernandes yang pertama menemukan, bisa – bisa Perang Dunia mengguncang ketenangan komunitas Selayo 11.

Jum'at 29 Juli 2011