Kamis, 13 Juni 2013

GADIS BERBAJU BIRU SANGAT TUA



Gadis itu saya tebak berusia 16 tahun. Motornya berhenti persis di depan saya dan tanpa turun dari kendaraan dia meneriakkan pelan pesanannya, Jagung bakar serut. Saya yang memang bengong dari tadi menunggu pesanan yang sama otomatis tidak bias menolak menikmati kecantikan itu. Kehadirannya sesaat memang seperti menyembul dari kebisingan dan deru debunya jalan raya. Dia muncul dengan indahnya membuat dunia sekitar menjadi musim semi tiba – tiba. Sore melambat, entah dari mana mengalun denting piano dan gesekan biola begitu merdu. Namun di mata saya justru semuanya berjalan begitu cepat. Tidak ingin kehilangan kesempatan, mata saya segera menjelajahi keindahan tersebut.
Gadis 16 tahun itu berjilbab biru sangat muda membalut lembut kulit wajahnya yang kuning pualam. Matanya bulat dan bersinar sangat terang. Beberapa kali kami beradu pandang dan tidak seperti behadapan dengan perempuan lain, kali ini saya biarkan dia tahu bahwa saya mengagumi dirinya sepenuh hati. Hidungnya mancung, bibirnya merah tipis menyembunyikan barisan gigi yang tersusun sangat rapi. Ada yang unik di wajahnya.Setiap dia bicara menyebabkan tarikan halus di bawah tulang pipinya. Tarikan ini membentuk garis abstrak dari tulang pipi memanjang kearah mata. Namun bila dia diam, garis tersebut tidak membekas sama sekali. Teman di boncengannya asyik menemaninya ngobrol sambal sesekali merapikan headphone yang terpasang di kedua telinganya. Tapi saya hanya selintas memperhatikan temannya itu, keindahan  terlalu terpusat pada gadis berjilbab biru sangat muda ini maka temannya seperti segala sesuatu yang ada di sekitar lokasi itu hanya menjadi latar belakang tak penting dari pesonanya yang agung.
Dia berbaju biru sangat tua, membalut tubuh nya tanpa ampun. Tidak terlalu ketat namun juga tidak berusaha menyembunyikan keindahan tubuhnya. Baju itu saya yakin menjadi makhluk paling beruntung dari semua benda di sore itu. Di temani celana jeans hitam dan sandal coklat bertali memberi kesan simple pada keseluruhan penampilannya.
Gadis itu dan saya menunggu pesanan yang sama, Jagung bakar serut. Menelusup kebanggaan saya menyadari bahwa selera saya tidak malu – maluin, toh ada juga yang sama dari kami berdua. Siapa tahu diluar jagung bakar serut, mungkin kami sama – sama menyukai warna biru, sama – sama suka gambar pemandangan, suka pada lilin atau apalah. Jadi ada optimisme bahwa ini mungkin titik awal dimana banyak hal dari kami yang bisa di satukan. Dalam hati saya berdo’a sekhusuknya agar pemilik warung lupa pesanan saya. Dengan demikian saya punya alasan untuk tetap berada di jalan itu dan memandangi gadis tersebut berlama – lama. Namun gadis itu tidak memberi perhatian lebih pada pandangan saya yang mengaguminya. Harapan saya, kami bias di satukan oleh Jagung bakar serut tanpak nya sia – sia. Pandangannya yang sangat biasa itu segera menyadarkan saya bahwa saya tidak memiliki syarat untuk di pandang berungkali oleh perempuan. Apalagi oleh gadis yang saya duga jika hidup di zaman para dewa, maka dia pasti menjadi satu – satunya alasan rasional atas perang bharatayudha.
Saya tersentak lalu ingat Aci Candra. Gadis idealnya adalah berusia belasan tahun, cantik menarik hati, baik budi dan tidak sombong. Sepintas gadis ini memenuhi syarat. Saya menjadi iri tiba – tiba kalau Aci bertemu gadis ini. Saya pasti tidak tahan melihat Aci membagi senyum setiap saat kepada penghuni Selayo 11, membanggakan gadis berbaju biru sangat tua itu sebagai pilihan hatinya. Dia akan bercerita membabi buta bahwa inilah satu –satunya gadis yang pantas untuk di jatuh cintai. Persoalan gadis itu juga jatuh cinta atau tidak pada Aci, bukanlah hal penting. Aci adalah laki – laki universal yang bersedia mencintai tanpa pamrih. Menyadari ini saya tersenyum arif sembari berdo’a semoga Aci menemukan gadis itu. Bahaya kalau justru Fernandes yang pertama menemukan, bisa – bisa Perang Dunia mengguncang ketenangan komunitas Selayo 11.

Jum'at 29 Juli 2011

1 komentar: